Selasa, 30 April 2019

Tradisi mekotek

Hai teman-teman kalian tau gak tentang tradisi mekotek yang ada di desa munggu kali ini saya akan menjelaskan salah satu tradisi unik yang ada di desa munggu yaitu mekotek. Tradisi mekotek ini dilakukan dengan tujuan memohon keselamatan, tradisi mekotek ini merupakan warisan leluhur yang dilaksanakan turun temurun hingga saat ini oleh umat Hindu di Bali.
Upacara ini dilakukan oleh 2000 peserta, para peserta dibagi menjadi beberapa kelompok dengan setiap kelompoknya terdiri dari 50 orang. Setiap orang membawa tongkat kayu yang akan diadu menjadi Piramida atau kerucut.


Seperti yang kalian lihat pada gambar diatas terlihat seorang pria memanjat menaiki Piramida dari kayu tersebut, tetapi itu bagi orang yang mempunyai nyali saja manteman. Kalau kalian berani gak naik keatas Piramida kayu itu? eitss tapi kalau jatuh gimana? Kan sakit, ya nggak? Ya kan!!

Tradisi mekare kare

Hai teman-teman kali ini saya akan memberitahu kalian tentang tradisi mekare kare atau perang pandan tradisi ini ada di salah satu desa tua yaitu desa Tenganan. Tradisi ini digelar bertujuan untuk sebuah persembahan untuk menghormati dewa indra yang dipercaya sebagai dewa perang. Tradisi ini sangat unik, yang dilakukan oleh 2 orang yang membawa pandan berduri saling menyerang satu sama lain, berikut saya akan memberikan gambar" tradisi mekare kare atau perang pandan



Nah seperti yang kalian lihat gambar di atas 2 orang pria saling menggeret pandan berduri ke tubuh lawan yang berada di depan mereka


Sepertinya tradisi ini terlihat seru bagi mereka yang biasa melakukannya ya, kalau menurut kalian bagaimana teman-teman





Rabu, 03 April 2019

Tradisi Ngerebeg di Tegallalang

Tradisi Ngerebeg ini merupakan serangkaian piodalan di pura Duur Bingin, Banjar Tengah desa Tegallalang. Dalam tradisi ini anak-anak dari tujuh Banjar se desa Tegallalang  dengan menggunakan riasan dengan beraneka warna serta pernak-pernik yang digunakan anak-anak tersebut selama prosesi, menjadi salah satu daya tarik prosesi ini.
Sejak siang sekitar pukul 11.00 wita, satu persatu anak laki-laki dengan berbagai hiasan sudah memadati Pura Luhur Duur Bingin. Hal ini dilakukan sebagai persiapan pelaksanaan ritual ngerebeg. Hingga pukul 12.00 wita,sesaat setelah anak anak tersebut berkumpul di Utamaning Mandala Pura, rangkaian upacara persiapan ngerebeg pun dilakukan seperti persembahyangan hingga nunas pica berupa nasi dan lawar yang dilakukan dengan cara megibung.
Setelah dimulai dari depan Pura Luhur Duur Bingin, anak-anak dengan membawa miniatur penjor dari pelepah pohon salak selanjutnya berjalan kaki sejauh 10 km mengelilingi Desa Tegallalang. Prosesi ini mengundang decak kagum puluhan wisatawan yang kebetulan atau sengaja ingin menyaksikannya. Bahkan masyarakat pun kompak terlihat duduk-duduk di depan rumah maupun art shop mereka untuk menyaksikan ritual yang dilaksanakan tiap enam bulan sekali itu.
Dijelaskannya lebih lanjut, ritual ini berkaitan dengan keberadaan Pura Luhur Duur Bingin yang berbeda dengan pura lainnya. Sebab sesuhunan yang berstana di pura tersebut adalah Ida Bhatara Ratu Gede yang berupa sepasang Barong Landung Istri dan Lanang. Jadi ritual ini memiliki makna seperti syukuran. Karena setelah anak-anak ini menghaturkan sesajen baik itu buah, bunga dan lainnya pada pagi harinya, siang hari mereka melaksanakan ritual ini
Ngerebeg dilaksanakan secara turun-temurun oleh masyarakat Desa Pakraman Tegallalang. Diperkirakan ritual ini sudah ada sejak abad ke-13. Hingga kini tradisi tersebut tetap dilaksanakan. Masyarakat pun tidak berani menghapus tradisi ini.
Tidak cuma anak-anak tetapi juga orang dewasa ikut dalam keberlangsungan proses jalannya tradisi ngerebeg dari awal mulai hingga selesai. Krama banjar di desa Tegallalang sangat percaya jika ritual ngerebeg ini tidak dilaksanakan, bisa terjadi bencana di wilayah Desa Pakraman Tegallalang.

Tradisi mekotek

Hai teman-teman kalian tau gak tentang tradisi mekotek yang ada di desa munggu kali ini saya akan menjelaskan salah satu tradisi unik yang a...