Rabu, 23 Januari 2019

tradisi mesbes bangke

Sebutan Bali sebagai Pulau Seribu Pura sudah tak asing lagi bagi wisatawan lokal maupun asing, mengapa demikian, Karena Bali menjadi tujuan wisata dunia, sedangkan mayoritas penduduknya beragama Hindu. Walaupun pengaruh agama Hindu cukup kuat di Bali, tetapi berbagai budaya dan tradisi warisan leluhur di pulau ini tetap bertahan sampai sekarang ini, seperti salah satunya tradisi Mesbes Bangke atau mencabik mayat, kedengaran sangat ekstrim dan tentunya sangat unik pada jaman sekarang ini.

Jika kalian pertama kali mendengar bagaimana tradisi ini dilaksanakan, tentu akan membuat kalian heran, karena memang mayat tubuh orang yang meninggal (bangke) dicabik-cabik oleh warga dan itu hanya ada di banjar buruan, Tampak Siring, Gianyar. Tentunya ini adalah adalah sebuah budaya dan tradisi unik di Bali yang ekstrim yang dilakukan oleh warga setempat dan tradisi itu masih bertahan sampai saat ini, sangat dimaklumi untuk warga yang belum kenal dan masih awam akan tradisi tersebut, tentu akan kelihatan aneh dan mengerikan.




Hasil gambar untuk tradisi mesbes bangke




Tradisi Mesbes Bangke di Tampak Siring Bali ini, tidak dilakukan pada semua mayat manusia yang sudah meninggal. Di desa ini dilakukan upacara Ngaben dengan cara ngaben masal yang melibatkan dan dilakukan oleh banyak warga dan juga ada ngaben personal yang bersifat pribadi. Dan tradisi Mesbes Bangke tersebut hanya digelar untuk ngaben personal saja. Jadi tidak semua orang meninggal melalui proses mencabik mayat tersebut.kenapa tradisi yang juga merupakan proses ritual orang meninggal tersebut sampai dilangsungkan, walaupun itu sebuah peninggalan leluhur, tetapi itu sebuah tradisi ekstrim yang mungkin tidak semua warga bisa melakukannya. 

Seperti diketahui untuk melakukan upacara tentu harus mencari hari baik atau duwase (tanggal) yang cocok untuk melakukan ritual dan terkadang mayat orang meninggal harus beberapa hari berada di dalam rumah, dan konon, dahulu penduduk asli banjar Buruan ini kebingungan untuk menghilangkan bau busuk yang dikeluarkan oleh mayat, karena zaman dulu tidak ada formalin, mereka harus mencari cara agar mayat tidak berbau bau busuk yang dikeluarkan mayat tersebut.Karena warga Banjar Buruan tidak kuat 
menahan bau busuk yang dikeluarkan oleh mayat tersebut, maka warga memiliki ide untuk mesbes (mencabik) mayat tersebut, dan pada saat mencabik-cabik (mesbes) mayat mereka harus merasakan kegembiraan, agar lupa akan bau yang ditimbulkan oleh mayat tersebut. Setelah mayat di cabik-cabik dengan tangan dan giginya sekalipun, entah dagingnya dimakan atau sekedar dicabik, cabikan mayat tersebut di oper-oper seperti sedang melakukan permainan. Menurut warga mereka merasa senang melakukan tradisi tersebut, daging mayat dicabik dan dioper mereka meluapkan kegembiraan sehingga bau tersebut terlupakan.




Hasil gambar untuk tradisi mesbes bangke




Saat tradisi Mesbes Bangke ini berlangsung, para pencabik mayat tersebut ada yang setengah sadar atau kesurupan ada pula yang masih sadar, namun mereka tetap bersemangat untuk mencabik mayat hingga naik ke atas mayat, apalagi diiringi oleh gamelan baleganjur dan guyuran air membuat mereka menjadi tambah semangat, setelah warga lelah mencabik mayat ataupun saling oper daging mayat, barulah jenazah atau mayat tersebut di bawa ke tempat upacara Ngaben. Untuk di Bali sendiri dikenal adanya Kasta, untuk tradisi tersebut tidak ada perlakuan khusus untuk kasta yang lebih tinggi, semua kasta ataupun status ekonomi warga, semua diberlakukan sama jika mereka ingin menggelar upacara Ngaben secara personal.


https://www.balitoursclub.net/tradisi-mesbes-bangke-di-tampak-siring/


6 komentar:

Tradisi mekotek

Hai teman-teman kalian tau gak tentang tradisi mekotek yang ada di desa munggu kali ini saya akan menjelaskan salah satu tradisi unik yang a...